Catatan Cinta Sang Cucu

Dari Tanah Papua banyak orang mengenal lagu berjudul ‘Apuse’. Sebuah lagu yang popularitasnya jauh melampaui tanah tempat lagu itu dilahirkan. Namun tak banyak yang tahu bahwa lagu itu liriknya berisi kata pamit seorang cucu kepada kakek/neneknya, saat ia akan pergi ke Teluk Doreri. Terasakan bagaimana cinta dan hormat serta dekatnya hubungan sang cucu kepada kakek/neneknya itu.
Juki adalah sosok yang sangat dekat dengan para cucunya. Di hati para cucu, Juki diam-diam membangun tiang-tiang hormat dan kekaguman, hingga menjadi bangunan indah yang di dalamnya selalu terdengar nyanyian penuh cinta kasih dan kebanggaan cucu terhadap kakeknya.
Dari lima orang anaknya, Juki dan Kiki telah pula dikaruniai tujuh orang cucu. Para cucu memanggil Juki dengan sebutan ‘engkong’ dan memanggil Kiki dengan panggilan kesayanganan ‘oma’. Mereka adalah cahaya yang menerangi keluarga besar Juki dan Kiki, selalu menebarkan aura kebahagiaan, selalu pula dirindukan.
Dari enam orang cucu, cucu pertama, yaitu Oryza Alifa Monesa, yang merupakan anak pertama dari Irfan Syaifudin dan isterinya Mutia Farida, pernah membuat catatan sangat bagus tentang sosok sang engkong. Catatan itu dimuat dalam buku berjudul “Tokoh Inspirasiku” yang dibuat oleh sekolah Oryza Alifa Monesa, yakni SD Cakrabuana, Depok.
Apa yang ditulis oleh Oryza Alifa Monesa sejatinya merupakan suara hati seluruh cucu Juki, dengan segala kekaguman dan rasa cinta mereka pada sang engkong. Unik memang, di saat anak-anak seusianya memilki kekaguman atau mengindolakan artis atau selebritis, sang cucu justru mengangkat kekaguman kepada sang kakek.
Dari catatan yang cukup panjang itu, ada bagian yang paling menarik. Inilah:
“Nuroji adalah kakekku. Kita biasa memanggilnya ‘Engkong’. Engkongku kelihatannya agak galak, tetapi ia sangat peduli dengan anak dan cucunya. Ia sangat tegas dan disiplin. Engkongku anak kedua dari delapan bersaudara. Engkongku lahir di Depok pada tahun 1962. Ia lahir dari keluarga yang kurang mampu, empi atau buyut perempuanku bekerja sebagai penjahit, kumpi atau buyut laki-lakiku bekerja sebagai kuli bangunan.
Engkong pintar, karena giat belajar sampai larut malam. Sejak SMA hingga kuliah, ia selalu mendapatkan beasiswa, karena nilainya selalu bagus.
Mengapa aku mengidolakan engkongku? Karena engkongku pintar, pekerja keras dan pejuang keras. Yang paling aku suka dari engkongku adalah ia sangat peduli jika cucu dan anaknya sakit. Ia langsung memerintahkan kita untuk ke rumah sakit…”
**
Cerita :
Nuroji
Penulis :
Hannoeng M Nur
Disain cover :
Oryza Alifa Monesa
Diterbitkan oleh :
Betawi Ngoempoel Creative Centre (BNCC)
Jl. Raya Tanah Baru No.74 Tanah Baru , Beji
Depok 16426
Hak cipta dilindungi undang-undang.
Dilarang mengutip atau menyalin tulisan dan/atau cerita sebagian atau seluruh buku ini tanpa ijin tertulis penerbit.


