Catatan Penulis


Ketersediaan : Tersedia

Catatan Penulis

“Ilmu Ikhlas Bang NurOji”

 

Ini April 2022. Berarti telah 6 bulan saya bekerja untuk menghasilkan sebuah buku biografi dari seseorang yang saya kagumi jalan pikiran dan idealismenya. Ir. H. NurOji, MSi. Seseorang yang membuat saya dekat karena aktivitasnya di dalam seni budaya, khususnya di Kota Depok. Tak banyak orang yang mau mencurahkan pemikiran, ide, waktu dan finansial untuk melestarikan dan membangun kesenian dan kebudayaan, tanpa perhitungan bisnis. Beliau adalah salah satunya dari yang tak banyak itu.

 Sebelum ini telah 3 biografi yang saya tulis selama menekuni dunia menulis. Semua memiliki tantangan masing-masing, namun ketika saya memulai membicarakan soal buku ini dengan H. NurOji, segera saya merasa bahwa saya telah disergap oleh sesuatu yang amat sangat berbeda. Saya harus menangkap jalan pikiran dan idenya yang anti-mainstream.

“Gua nggak mau bukunya jadi buku biografi yang umum, kayak yang udah ada. Gua mau beda,” katanya di satu malam di bulan Oktober 2021, ketika beliau mengundang saya bicara di Waroeng Betawi Ngoempoel.

Kata-kata “gua mau beda” tentu saja saya harus terjemahkan dengan tingkat kesulitan yang lumayan tinggi. Apa maunya dia ini? Bukankah sebuah buku biografi adalah rangkaian potret kehidupan seseorang yang secara sistematis disusun secara berurut sejak kecil hingga tua? Lalu apa bedanya?

            “Gua pengen lu nulis buku biografi gua kayak lu nulis novel atau cerpen,” kata H. NurOji singkat. Itu adalah sebuah clue.

            Ya, Bang NurOji – demikian saya memanggilnya – memang pernah membaca novel “Angin Masa Lalu” karya saya. Mungkin karena itulah ia terinspirasi membuat buku biografi dengan gaya novel. Clue itu bisa saya tangkap.

Saya makin memahami apa maunya Bang NurOji. Ia ingin buku biografinya bukan hanya mencatat perjalanan hidupnya tetapi secara tersirat juga memberikan pencerahan kepada para pembacanya tentang nilai-nilai kehidupan, dimana ada soal moral, emosi, keikhlasan dan kegigihan di dalamnya. Maka sejak saat itu mengalirlah kalimat-kalimat panjang dari bibirnya yang menceritakan bagian-bagian penting di dalam kehidupannya, dalam sebuah wawancara panjang yang harus dilakukan berkali-kali disela kesibukannya.

 

**

 

            Ketika memulai proses penulisan buku ini, saya baru saja selesai menyutradarai sebuah film yang saya buat skenarionya sendiri, berjudul “Jangan Panggil Aku Banci”. Itu sebuah film layar lebar namun saya yakin tak akan menjadi sebuah film yang komersil. Saya diam ketika ada yang bilang “film lu keren”, sama diamnya saya ketika ada yang bilang “film lu jelek banget”. Bagi saya, proses kreatif tidak boleh terbelenggu oleh beban “harus laku” atau “harus menyenangkan semua orang”. Proses kreatif adalah sebuah kejujuran, sedangkan soal hasil adalah tentang seberapa besar Allah memberikan saya kemampuan untuk mewujudkannya menjadi sebuah karya. Karena ide dan kretivitas seni sangat tergantung dari besar-kecilnya kemampuan yang dipinjamkan oleh Allah, maka tak ada nilai baik-buruk di dalam soal kesenian. 

            Dengan prinsip itulah saya bersedia menulis buku ini. Wow, saya excited banget, karena serasa mendapatkan kebebasan yang penuh dari Bang NurOji. Maka inilah buku biografi Bang NurOji, yang di dalamnya ada fiksi, gaya jurnalisme, informasi dan rangkaian data. Sebagai orang Betawi, saya memang terkesan seenaknya menulis, seperti gaya orang Betawi pada umumnya, yang terkesan suka seenaknya bicara dan bertingkah. Tapi itulah kejujuran yang saya maksud.

 

**

 

            Kehidupan Bang NurOji adalah rangkaian panjang cerita yang di dalamnya terkandung kekecewaan, kemarahan, kegelisahan, pemberontakan, juga sakit hati, disamping tentu saja ada kebahagiaan. Pada berbagai  bagian kehidupannya, Bang NurOji mengalami kekecewaan karena dikhianati oleh teman bisnis, terhina oleh perlakuan arogan pemegang kuasa, tersakiti hatinya oleh karena ketidak-adilan, bahkan kehancuran psikis karena kemiskinan. Begitu banyak rasa pahit itu.

            Namun seperti halnya matahari yang selalu terang saat mendung berlalu, Bang NurOji selalu pula bangkit dari semua rasa itu. Ia – secara manusiawi – kerapkali marah saat menerima perlakuan yang seolah merendahkannya, namun setiap kali rasa marah itu muncul, saat itu pula ia tutup pintu bagi masuknya rasa dendam.

            “Gua percaya selalu ada kebaikan di balik keburukan,” kata Bang NurOji. Ya, Bang NurOji percaya pada adagium blessing in disguise.  Sesuatu yang menyakitkan hari ini bisa jadi adalah pintu pembuka kebahagiaan di hari esok. Kalau engkau sedang menikmati minuman yang manis, maka sebelumnya minuman itu terasa pahit, hingga akhirnya ada gula yang dimasukkan ke dalamnya.

            Keikhlasan. Mungkin keikhlasan adalah bahasa rahasia antara manusia dengan Tuhan, namun dalam konteks manusiawi hal itu bisa juga terasakan. Ketika Bang NurOji tersakiti atau jatuh pada lubang kemiskinan, lalu saat itu ia merasa tenang dan menerima semuanya, maka dapatlah dikatakan ia tengah menjalani rasa ikhlas. Salah satu wujud keikhlasan adalah bagaimana seseorang bangkit dari keterpurukan dengan tetap tersenyum dan menjaga pandangan husnudzon terhadap Tuhan-nya. Itulah yang dilakukan oleh Bang NurOji.

 

**

 

            Dan malam ini saya kembali bertemu dengan Bang NurOji. Seperti biasa, raut wajahnya datar dan tanpa banyak basa-basi.

            “Kayaknya udah cukup isi bukunya,” kata Bang NurOji kepada saya. “Nggak usah ditambahin lagi.”

            “Tapi masih banyak yang belon diceritain, Bang,” kata saya.

            Bang NurOji diam sesaat, Ia seperti merenungkan sesuatu. Lalu katanya, “ya banyak yang belon gua ceritain. Tapi…lu tahu kan komputer? Ada banyak file di dalemnya, tapi nggak bisa semua lu bisa buka. Ada hidden file yang nggak bisa dibuka. Biar itu kesimpen, cuman gua yang tahu.”

            Sungguh, pengalaman saya bekerja sebagai wartawan beberapa tahun lampau seolah mengusik rasa ingin tahu yang lebih besar lagi, namun Bang NurOji telah membuat garis batas permainan, maka saya tak bisa melewati garis itu.

            Lalu soal nama, kenapa harus “Juki”, bukan NurOji atau Oji?

            “Kalo orang baca buku ini, gua pengen mereka bisa dapetin nilai-nilai kebaikan, bukan sekedar tahu lebih banyak tentang gua. Itu makanya kenapa nama gua di buku ini Juki, bukan nama asli gua. Juki itu bisa siapa aja, dengan pengalaman masing-masing yang beda tapi punya keikhlasan dan kegigihan yang sama. Nggak harus gua,” ujar Bang NurOji lagi.

            “Tapi kan orang akhirnya tahu kalo Juki itu Bang NurOji,” sergah saya.

            “Ya pasti akan ngarah ke gua. Nggak apa-apa. Tapi dari awal orang diajak masuk ke kehidupannya Juki,” tukas Juki, eh Bang NurOji.

            Maka itulah yang terjadi, itulah yang ada. Buku ini telah ada di tangan Anda. Ini adalah rangkain cerita yang disampaikan oleh Bang NurOji kepada saya. Cerita sebagai seorang anggota DPR-RI, sebagai seorang suami, sebagai seorang ayah, sebagai pecinta seni budaya, sebagai Bang NurOji, “kalo abis baca buku ini, semoga orang pada makin paham ilmu ikhlas…”

            Terima kasih saya kepada Allah SWT atas kemampuan yang dipinjamkan-Nya, hingga buku ini bisa selesai. Terima kasih kepada Muhammad Rosulullah atas keteguhan iman yang Ia sebarkan. Terima kasih kepada Bang NurOji atas kepercayaannya kepada saya, kepada seluruh keluarga Bang NurOji atas segala bantuannya. Tentu saja kepada Nay isteri saya, anak-anak dan cucu-cucu serta menantu.

            Semoga buku ini bermanfaat.

 

Wassalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

 

Hannoeng M. Nur

hannoengn@gmail.com

  ***

Cerita :
Nuroji

Penulis :      
Hannoeng M Nur

Disain cover :
Oryza Alifa Monesa

Diterbitkan oleh :
Betawi Ngoempoel Creative Centre (BNCC)
Jl. Raya Tanah Baru No.74 Tanah Baru , Beji
Depok 16426

Hak cipta dilindungi undang-undang.
Dilarang mengutip atau menyalin tulisan dan/atau cerita sebagian atau seluruh buku ini tanpa ijin tertulis penerbit.