Secangkir Kopi Kehidupan
Selepas berhenti dari tabloid Jurnal Nasional, Juki masuk ke dalam fase menganggur lagi. Ia kembali harus memutar otak menghadapi waktu ke depan yang tak menentu. Ia sungguh belum siap keluar dari Jurnal Nasional, terlebih saat ia keluar tak memperoleh pesangon sama sekali. Ia hanya membawa sebuah sepeda motor inventaris, yang kelak justru harus dikembalikan juga. .
Tentu saja berdiam diri bukanlah pilihan bagi Juki untuk menjalani hari-hari tanpa pekerjaan. Ia tetap berusaha untuk mencari celah kemungkinan mendapatkan peluang baru. Dan ketika ia kemudian berada di kawasan Gunung Sahari, di mana banyak usaha percetakan di sana, pastilah ada alasan tertentu. Ya, sebagai orang yang memiliki pengalaman terakhir di bidang media maka ia merasa salah satu celah mendapatkan pekerjaan adalah jika ia berada di area yang juga punya konteks dengan media, yaitu percetakan.
Salah satu tempat Juki nongkrong hampir setiap hari adalah percetakan yang mencetak tabloid Guo Ji Ri Bao. Itu adalah sebuah penerbitan berbahasa mandarin yang awalnya dimiliki oleh tiga media yang berkedudukan di tiga negara, yaitu Guo Ji Ri Bao (LA-Amerika Serikat), Wen Wei Po (Hong Kong) dan Ren Min Ri Bao (China). Pada perjalanannya kemudian, Group Jawa Pos mengambil alih tabloid tersebut. Guo Ji Ri Bao – yang dalam bahasa Inggerisnya berarti International Daily News -- memang menguasai pangsa pasar yang besar di Indonesia, terkait dengan banyaknya jumlah warga keturunan Cina dan minimnya media berbahasa mandarin.
Dan hari itu Juki nongkrong di sana bersama Syamsul, temannya di Jurnal Nasional yang juga sama-sama diberhentikan. Keduanya sepakat bertemu di sana dan bernostalgia saat-saat masih di Jurnal Nasional.
“Lu dikeluarin juga, Cing?” tanya Juki pada Syamsul.
“Ya, Cing. Motor inventaris juga ditarik.”
“Sama gua juga. Kemana-mana jadi jalan kaki, naik bis,” kata Juki, tanpa bermaksud mengeluh.
“Terus lu ngapain aja seabis dari Jurnal Nasional?”
“Ya gini-gini aja, nyari-nyari aja. Kali aja ada kemungkinan,” jawab Juki santai.
Beberapa kali mereka bertemu di sana menunggu datangnya kemungkinan. Tapi kemungkinan itu belum juga datang, yang datang justru adalah seorang sales kredit sepeda motor. Ia menawarkan kredit sepeda motor dengan uang muka yang murah. Syamsul tak tertarik, tapi Juki justru menyambutnya. Ia berkenan mengambil kredit. Sesuatu yang membuat Syamsul agak heran.
“Cing, lu nekad banget sih? Kan belon ada kerjaan, ngapain ngeridit motor?”
“Ah, gimana ntar ajalah. Gua butuh kendaraan. Lha masa tiap hari gua numpang sama lu aja,” kata Juki, tanpa beban.
Salah satu yang membuat Juki tertarik kredit motor itu adalah uang mukanya yang hanya 500 ribu. Saat itu memang show room dan leasing sedang gencar-gencarnya menarik pembeli kendaraan dengan meminimalisir uang muka atau down payment-nya. Dan strategi itu jitu juga. Pengajuan kredit kendaraan – terutama sepeda motor – melonjak tajam. Maka Honda Supra X pun akhirnya dimiliki oleh Juki. Hingga kini Honda Supra X itu masih disimpan oleh Juki sebagai kenangan atas kenekadannya membeli motor itu dalam kondisi ekonomi pribadi yang tengah jatuh. Juki bahkan menolak menjual sepeda motor tersebut meski dengan harga yang sangat tinggi. Baginya, kenangan itu lebih mahal dari uang seberapa besar pun.
Pada waktu kemudian, Syamsul mulai mendapatkan ide untuk pekerjaan. Itu ada hubungannya dengan tempat mereka nongkrong, yaitu percetakan Tabloid Guo Ji Ri Bao.
“Cing, gimana kalo kita nyari iklan aja buat tabloid mandarin ini?’ tanya Syamsul mencoba melemparkan ide.
Juki agak ragu dengan ide Syamsul itu. Katanya, “bagus juga sih. Tapi susahlah kita nyari iklan untuk Koran mandarin gini.”
“Terus gimana dong?”
“Ya kita cari iklan buat yang lain ajalah.”
Ide tersebut pada hitungan waktu kemudiannya berkembang menjadi usulan membuat sebuah usaha yang bergerak di bidang marketing iklan. Tentu itu ada alasannya. Juki memiliki kemampuan di bidang sumber daya manusia, sementara Syamsul dianggap paham soal marketing.
Lalu terbentuklah sebuah unit usaha bernama PT Bina Kawan Sejahtera. Perusahaan itu bergerak di bidang penyediaan SDM, terutama tenaga marketing. Perusahaan baru itu tanpa karyawan (hanya Juki dan Syamsul), tanpa modal, tanpa kantor. Yang terbesar yang mereka miliki adalah semangat, usaha dan keyakinan.
Semangat, usaha dan keyakinan itu pada waktunya menemukan pintu di mana mereka bisa mulai memasuki ruang pekerjaan dan harapan, saat harian Warta Kota menantang mereka untuk bisa mencari iklan, menambah kuota iklan yang telah ada saat itu, dari 2 halaman menjadi 3 halaman. Warta Kota memberikan batas waktu 1 tahun untuk pencapaian 1 halaman iklan tambahan tersebut. Juki dan Syamsul menyanggupinya.
Setelah datang tawaran dari Warta Kota itu mulailah Juki dan Syamsul memutar otak bagaimana menjalankan bisnis tersebut. Yang paling awal tentu saja adalah mencari tenaga pemasaran, sebelum bergerak mencari iklan. Namun itu semua dimulai dari titik paling dasar, yaitu pelatihan. Proses pelatihan tentu saja membutuhkan materi-materi untuk diajarkan kepada para peserta pelatihan, sementara secara de jure mereka berdua bukanlah akademisi yang punya perbendaharaan teori dan sistem pengajaran, meski secara de facto memiliki kemampuan di bidang sumber daya manusia dan marketing.
Namun ilmu bisa didapat dari mana saja, tak harus melalui sekolah formal. Menyadari kekurangan dalam hal teori dan pengajaran maka Juki dan Syamsul pun menyiasatinya dengan cara membuat sendiri modul pelatihan. Dari mana bahannya? Mereka ke toko buku dan membeli 5 buah buku yang berhubungan dengan sumber daya manusia dan marketing. Berhubung sama-sama tak punya uang maka Syamsul menggunakan kartu kreditnya untuk membayar pembelian buku-buku tersebut.
Ya, buku-buku referensi telah dibeli, sekarang masalahnya adalah bagaimana menyusunnya menjadi sebuah modul. Perlu waktu dan tempat khusus untuk menyusunnya, sehingga bisa lebih fokus dan tak terganggu oleh hal-hal lain. Awalnya terpikir untuk menyusun modul itu di rumah Juki, namun urung karena dirasa keadaan di sekitar rumah Juki terlalu ramai oleh anak-anak. Khawatir itu akan memperlambat proses penyusunan. Lalu kemana?
“Cing, di sekitar Parung ada hotel murah tuh. Kita di situ aja ya,” kata Juki memberikan alternatif.
Syamsul setuju. “Ya terserah lu aja dah, yang penting kelar cepet,” ujar Syamsul.
Sebuah penginapan di dalam area Sawangan Golf memang menjadi pilihan satu-satunya. Sepi dan murah.
Dan di sanalah modul pelatihan itu disusun. Berbekal buku-buku yang dibeli, ditambah dengan pengalaman Juki mengikuti beberapa seminar beberapa tahun lalu, seperti seminar yang dibuat untuk mengurai teori-teori motivasi dari Dale Carnegie. Juki memang sangat terpukau pada salah satu teori dari Dale Carnegie tentang bagaimana seseorang harus mencari jalan yang baru atau berganti quadran, dalam apa yang disarikan oleh Dale Carnegie dalam qoutes “act enthusiastic, you will be enthusiastic,.” Point itu yang diniatkan oleh Juki untuk dibagikan kepada para peserta latihan nantinya.
Pergulatan pikiran Juki dan Syamsul selama di hotel akhirnya melahirkan sebuah modul – bisa dianggap sebuah buku – yang oleh Juki diberi judul “Titian Menuju Sukses”. Modul itulah yang kemudian dijadikan handbook dalam proses pelatihan selama 3 hari.
Tahap berikut yang akan dilakukan oleh Juki dan Syamsul adalah perekrutan calon tenaga pemasaran. Modul sudah siap, yang menanti kemudian adalah kesiapan tempat yang jelas untuk mengadakan proses perekrutan tersebut. Juki dan Syamsul tak berkantor. Sangat tak mungkin merekrut peserta pelatihan atau calon tenaga pemasaran tanpa kantor atau tempat yang jelas. Kembali mereka berdua putar otak untuk itu. Dan ketemulah jalannya…
Syamsul punya seorang teman di Haka, sebuah perusahaan travel. Haka adalah sebuah perusahaan yang bernaung di bawah Haka Group yang lebih dikenal sebagai NV. Haji Kalla. Dengan memberikan argument yang kuat, maka teman Syamsul di Haka itu memberikan sebuah tempat di kantor Haka di daerah Tebet untuk dijadikan kantor sementara PT. Bina Kawan Sejahtera. Dan menggunakan alamat itulah kemudian PT. Bina Kawan Sejahtera membuat iklan baris di Koran Pos Kota.
Iklan baris itu ternyata efektif juga, sekali pasang datang peminat tak kurang dari 100 orang. Juki dan Syamsul pun menseleksi mereka lagi, lalu didapatlah 40 orang pertama. Setelah itu iklan pun dipasang sampai beberapa hari untuk mendapatkan pelamar yang lebih banyak lagi. Uniknya, latar belakang para peminat itu beragam, dari mulai lulusan SMA, mantan pekerja bengkel, bahkan juga MC dangdut! Malah ada seorang berdarah tionghoa, namanya Imel, yang awalnya adalah pembuat kue. Kesemua mereka diberi pelatihan tentang teknik marketing, sekaligus juga penguatan terhadap motivasi dan etos kerja mereka.
Proses pelatihan tentu saja tidak bisa dilakukan di ruangan kantor pinjaman Haka di Tebet itu, memandang bahwa akan banyak orang yang hadir saat pelatihan. Harus ada tempat lain. Dan karena pelatihan itu memiliki keterkaitan dengan harian Warta kota, maka Juki dan Syamsul pun menghubungi Warta Kota untuk mencari kemungkinan mendapatkan sebuah tempat. Warta Kota pun berkenan mengabulkan keinginan Juki dan Syamsul. Maka disediakan sebuah tempat di bagian belakang kantor Warta Kota bagi mereka untuk mengadakan pelatihan para calon tenaga marketing.
Selanjutnya oleh Warta Kota dipinjamkan ruangan untuk kantor, yaitu sebuah tempat kosong dibelakang , dekat tempat yang biasa dipakai untuk parkiran sepeda motor. Ruangan itu pun tak besar, untuk menampung 50 an orang marketing sehingga mereka harus pintar-pintar mencari tempat yang nyaman. Ada yang di dalam ruangan, banyak pula yang bertebaran di luar ruangan.
Beragamnya latar belakang para peserta latihan marketing itu melahirkan banyak cerita unik, terlebih kondisi keuangan perusahaan Juki masih sangat minim, bahkan boleh dibilang tanpa modal. Salah satunya cerita tentang si mantan MC dangdut. Satu saat ia tak punya uang untuk mendatangi calon-calon klien. Ia mengeluh pada Juki.
“Saya mau jalan tapi nggak ada ongkos, Pak. Gimana nih?” kata MC dangdut.
“Ya nggak usah bingung. Sekarang lu ambil tuh buku kuning telepon, cari perusahaan-perusahaan yang menurut lu punya potensi buat pasang iklan, nah lu telpon dah,” ujar Juki memberikan solusi. Buku kuning yang dimaksud oleh Juki adalah Yellow Page, buku yang berisi nomor-nomor telepon tempat usaha atau kantor.
Mantan MC dangdut tersebut melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Juki, bahkan beberapa temannya juga melakukan hal yang sama. Juki mentargetkan dalam sehari harus bisa menelepon 50 nomor kantor atau tempat usaha. Dan hasilnya ternyata bagus juga.
Keuletan si mantan MC dangdut itu memang bisa dipuji. Ia rajin dan tak kenal menyerah, sangat menikmati pekerjaannya. Kelak, Juki mendengar bahwa dia akhirnya bekerja secara resmi di bagian iklan Warta Kota. Itu pasti karena Warta Kota melihat pencapaian hasil kerjanya yang bagus.
Juki memang dituntut harus bisa mencari solusi atas persoalan-persoalan yang menyangkut pencarian klien, dalam kondisi yang penuh keterbatasan. Ia terus memompa semangat dan etos kerja semua yang ada di sekelilingnya, tak menyerah oleh karena situasi dan kondisi sesulit apa pun. Tugas Juki menanamkan motivasi yang kuat kepada para anak buahnya adalah sebuah pekerjaan yang sangat sulit. Dengan paradigma "Act enthusiastic and you will be enthusiastic” Juki terus memompa semangat para karyawannya.
Di lain waktu, Juki juga menghadapi masalah seorang anak buahnya yang bingung mau jalan tapi tak ada uang dan kendaraan, sedangkan ada seorang lagi yang memiliki kendaraan. Solusinya, Juki meminta mereka berdua untuk jalan secara tandem, nanti hasilnya dibagi dua. Hasil di sini adalah komisi dari hasil iklan yang bisa didapat.
Target waktu satu tahun untuk bisa menghasilkan 1 halaman penuh iklan yang dibebankan kepada perusahaan Juki dan Syamsul oleh Warta Kota, makin terlihat akan bisa tercapai. Sebab dalam kurun waktu 8 bulan saja target tersebut hampir tercapai. Maka Juki dan Syamsul pun mendapatkan management fee sebesar 40 juta. Sebuah pencapaian yang sejalan dengan semangat dan keyakinan Juki di awal perusahaannya terbentuk.
Sebuah perkembangan yang bagus memang mulai membayangi PT. Bina Kawan Sejahtera. Management fee yang didapat dan kepercayaan makin besar dari Warta Kota adalah bentuk dari perkembangan bagus itu. Juki dan Syamsul pun makin yakin pada pilihannya membuat perusahaan pemasok iklan tersebut.
Perkembangan yang bagus selayaknya juga dibarengi dengan perubahan-perubahan positif terhadap keberadaan perusahaan. Juki dan Syamsul lalu berpikir untuk mencari sebuah tempat yang agak lebih representatif dibandingkan dengan tempat awal yang menumpang di Warta Kota.
Sebuah tempat kecil di sekitar Pancoran, Jakarta Selatan, menjadi pilihan mereka untuk kantor PT. Bina Kawan Sejahtera. Tempatnya memang hanya memuat 3-4 orang, namun secara eksistensi itu bisa menaikkan marwah PT. Bina Kawan Sejahtera. Memiliki tempat sendiri – meski hanya mengontrak – tak lagi menumpang. Tempat itu memang hanya ruangan kosong, tanpa perabotan, tapi Juki tetap merasa bangga menempatinya. Rencananya, tempat itu hanya akan difungsikan sebagai kantor manajemen PT. Bina Kawan Sejahtera, sementara tempat para karyawan tetap di Warta Kota.
“Cing, kita nggak ada meja sama kursi nih. Kita harus beli nih,” kata Syamsul di saat mereka di ruangan itu berdua.
“Ngapain beli? Buang duit aja. Kita beli aja kayu-kayu bekas, ntar gua yang bikin meja sama kursi,” jawab Juki. Tentu saja Syamsul senang mendengar jawaban Juki.
Demikianlah, hari itu diisi dengan pembelian kayu-kayu bekas, paku dan peralatan lain yang dibutuhkan untuk pembuatan meja dan kursi. Juki mengerjakannya sendiri hingga jam 3 sore. Jadilah sebuah meja dan sebuah kursi panjang. Juki puas melihat hasil pekerjaannya. Cuma Juki melihat Syamsul agak lain, seperti banyak merenung.
“Tuh bangku sama mejanya udah jadi, Cing,” tukas Juki dengan senang.
“Ya,” jawab Syamsul pendek. Juki merasakan sebuah keanehan.
“Ada apaan sih lu, Cing? Dari tadi gua liat banyakan bengong.”
Syamsul tak menjawab. Ia seolah ingin mengatakan sesuatu namun berat mengucapkannya.
“Lu lagi ada masalah?” sekali lagi Juki bertanya.
Setelah agak lama terdiam lagi, barulah Syamsul bicara.
“Ya, bini gua.”
“Kenapa bini lu?”
“Bini gua marah-marah terus.”
“Marah-marah kenapa?”
“Soal utang. Gua punya utang 20s juta, udah lama belon bisa dilunasin. Makanya bini gua marah mulu.”
“Ah, utang lu baru segitu, gua 300 juta lebih. Santai ajalah, ntar juga bisa lunas,” kata Juki mencoba menguatkan semangat Syamsul.
“Tapi gua harus cepet ngelunasin, Cing. Itu makanya gua sebenernya mau ngomong sama lu,” ujar Syamsul.
“Ngomong aja,” kata Juki. “Gua dengerin.”
“Gini….maap sebelumnya nih…ini usaha buat gua aja ya, Cing.”
“Maksudnya gimana?”
“Ya lu mundur, biar gua yang pegang sendiri usaha ini,” kata Syamsul. Tentu saja Juki kaget mendengar kalimat itu.
“Apa-apaan sih lu? Maksudnya apa gua diminta mundur? Kan kita yang ngebangun usaha ini bareng-bareng,” suara Juki kali ini agak lebih tinggi.
“Ya gua paham. Tapi gua harap lu bisa ngertiin, kalo hasil usaha kita ini kita bagi dua terus, kapan gua bisa ngelunasin utang gua? Gua minta keikhlasan lu dah, Cing…”
Sekejap Juki didera perasaan tak menentu. Ada kecewa, marah dan rasa direndahkan oleh sahabatnya itu. Terbayang bagaimana ketika ia dan Syamsul sama-sama merintis usaha itu bersama, melewati gelombang naik turun, hingga akhirnya bisa sampai di titik seperti saat itu. Bagi Juki aneh saja, kok segampang itu Syamsul melupakan sebuah sejarah hanya demi memikirkan kepentingannya sendiri?
Juki tak berkata apa-apa, agak lama. Entah kata apa yang harus ia luncurkan dari bibirnya. Ia baru tersadar dari lamunannya manakala Syamsul bertanya dengan suara perlahan dan sangat hati-hati.
“Gimana, Cing? Lu kan bisa cari kerjaan lain.”
Juki menghela nafas panjang, lalu berkata, “Ya udah lu ambil dah.”
Syamsul terlihat gembira. “Terima kasih, Cing. Lu ikhlas kan?”
Juki tak ingin menjawab pertanyaan itu. Bagaimana bisa bibirnya berkata ikhlas sementara hatinya masih diliputi rasa kecewa dan marah?
“Lu ambil dah nih usaha. Gua cuman minta lu beliin gua laptop aja, buat gua cari cari pekerjaan lagi” hanya itu yang dikatakan oleh Juki.
“Ya nanti gua beliin minggu depan ya,” jawab Syamsul.
Juki kaget, “kok minggu depan?”
“Iya pake kartu kredit gua aja, nanti kita ketemu di Glodok, Cing…”
“Yaudah minggu depan ya.” Kata Juki, sambil ngeloyor pamit pulang duluan. Sepanjang menuju parkiran motornya Juki berguman dalam hati, “ apes banget gua ya, belon aja sempet pake kantor bikinan sendiri, udah harus berenti kerja”. Sepanjang jalan berkendara Juki memikirkan ini terus, belum lagi Juki tak tau harus kerja apalagi untuk kehidupan keluarganya, sementara hutangnyapun belum bisa terbayarkan. Lalu apa yang dia harus sampaikan ke istrinya kalo dia berhenti kerja.
Seminggu kemudian Syamsul memang menepati janjinya untuk membelikan laptop untuk Juki. Baginya sudah cukup laptop itu sebagai pemutus tali kerja dan kebersamaan dengan Syamsul.
Pilihan Juki untuk meminta laptop kepada Syamsul adalah keputusan yang tepat, karena dengan laptop itu Juki bisa mengisi hari-hari berikutnya melalui pekerjaan freelance yang ia dapat, seperti membuat proposal pendirian penerbitan. Seorang temannya meminta ia membuatkan proposal untuk pendirian sebuah penerbitan yang dimodali oleh seorang pengusaha besar di Jakarta. Juki hanya memberi jasa pembuatan proposal, tanpa terlibat di dalam proses penerbitannya. Juki hanya menerima pembayaran proposal itu sebesar 2 juta.
Di kesempatan lain, Juki juga sempat mendapat order membuat proposal untuk rencana penerbitan sebuah harian.
Kegiatan setelah ia melepaskan usaha marketing iklan sesungguhnya agak mampu melupakan rasa kecewa dan sedihnya. Ia isi waktunya dengan mencari kegiatan apa saja yang bermanfaat. Juki pun makin mampu melupakan kejadian itu. Malah pada perjalanan waktu kemudian Juki justru merasa beruntung karena telah mundur dari usaha bersama Syamsul.
Waktu terus berjalan, hingga sampai di beberapa bulan kemudian, ketika Juki mendengar kabar bahwa PT. Bina Kawan Sejahtera telah diputus kontrak kerjanya oleh Warta Kota.
Sungguh, Tuhan telah memberikan yang terbaik bagi Juki, meski awalnya terasa begitu pahit. Seperti segelas kopi; pahit dan hitam, namun nikmat. Dan Juki meneguk kopi kehidupan dari gelasnya. Di balik rasa pahit, Juki tetap merasakan ada kemanisan pelajaran hidup yang ia teguk. Juki berharap dan berdoa, semoga Tuhan membukakan jalan yang lebih baik.
***
Cerita :
Nuroji
Penulis :
Hannoeng M Nur
Disain cover :
Oryza Alifa Monesa
Diterbitkan oleh :
Betawi Ngoempoel Creative Centre (BNCC)
Jl. Raya Tanah Baru No.74 Tanah Baru , Beji
Depok 16426
Hak cipta dilindungi undang-undang.
Dilarang mengutip atau menyalin tulisan dan/atau cerita sebagian atau seluruh buku ini tanpa ijin tertulis penerbit.


